Pandangan Seorang Ateis Tentang “SEX BEBAS”. Apakah Itu Sex Bebas? Oleh : Rizky Andriawan

Kali ini saya mau menulis sebuah topik yang sebetulnya lumayan berat dan saya gak menemukan cara lain untuk membuatnya mudah diikuti kecuali dengan gaya humor satir. Dan saya yakin, Anda akan dengan mudah mengikutinya asalkan Anda tidak membacanya dengan dahi mengernyit dan tangan yang gatel mau marah–marah di sesi komentar, jadi coba senyum dulu terus ngaca sekarang, jangan lanjutkan membaca kalau senyumnya belum enak dilihat, oke? ;)

Kenapa?

Senyummu gak bisa enak dilihat?

Wah, deritamu nak, kalau kamu teis berdoalah supaya kamu enteng jodoh dan ada yang mau denganmu meskipun senyummu kayak gitu. Kalau kamu ateis, menabunglah buat operasi plastik.

 

Oke … oke … nanti dulu ngomelnya, saya masuk ke inti permasalahan nih, yaitu mengenai:

Kenapa saya merasa hal yang satu ini perlu dibahas di blog ini? Karena kayaknya sih isu soal ini cukup penting antara ateis dan teis, mengingat pertanyaan-pertanyaan kayak gini cukup sering muncul di page Facebook ABAM:

“Ateis tidak mengenal pernikahan ya? jadi bisa tidur dengan siapapun dong? Enak bener ya?”

“Ateis kan tidak terikat pada aturan agama, jadi tidur dengan siapa pun termasuk ibu atau anak sendiri boleh dong?”

Yah, umm … kalau dilihat–lihat lagi ternyata model pertanyaannya gak banyak sih, segitu–segitu saja, cuma sering aja, dan biasanya datang dalam bahasa dan penulisan yang jauh lebih alay dari ini. Berterimakasihlah karena saya sudah membantu menerjemahkan pertanyaan–pertanyaan berejaan ajaib itu sebelum saya cantumkan di sini.

Daaannn … inilah pembahasannya:

Free Sex itu apa?

Nah, sesuai tata krama dan adat istiadat yang berlaku di dunia akademis, sebelum kita membahas sebuah isu, ada baiknya kita tahu dulu apa yang dibahas, karenanya mari kita mulai dengan mendefinisikan terlebih dahulu apa itu “free sex”.

Agar lebih valid saya akan menggunakan referensi–referensi definisi yang sahih di Internet, seperti:

Dan definisi yang saya temukan menurut kamus Oxford online adalah … uh … emm, maaf–maaf, tidak ada istilah free sex di kamus Oxford online.

Oke, kita pakai definisi dari kamus Merriam Webster online saja, di mana free sex berarti … emm … maaf, lagi–lagi kamus Merriam Webster juga tidak punya istilah free sex dalam kamusnya.

Pakai punya Cambridge saja deh, di mana arti dari free sex adalah … err… tidak ada juga … tidak ada istilah free sex di kamus Cambridge online.

Ya sudah deh, kita pakai definisi Wikipedia saja, at least di Wikipedia ada sebuah halaman berjudul “Free Sex” meskipun isinya sendiri hanya mengatakan bahwa Free Sex tidak punya definisi jelas tapi orang kerap menggunakan istilah tersebut untuk beberapa hal seperti promiscuity, premarital sex, dan group sex.

Jadi…

sebenarnya…

FREE SEX ITU APAAAA?????

Googling: Free Sex

Oke, kalau memang tidak ada definisi jelasnya, mari kita coba melakukan googling dan menyusun sendiri kira–kira free sex itu artinya apa. Ketika saya mencoba meng-googling “free sex”, maka yang saya temui adalah:

Situs Porno
Um. Oke. Ehm. Ya menurut ente? Tapi perlu dicatat bahwa ketika googling “free sex” dan keluarnya situs porno, biasanya frasenya lebih panjang dari itu, seperti

  1. Free Sex Videos
  2. Free Sex Clips
  3. Free Sex Tubes

Dimana kalau dilihat–lihat, itu sebetulnya adalah pemenggalan yang salah, harusnya bukan “Free Sex | Videos” atau “Free Sex | Clips” tapi “Free | Sex Videos” dan “Free | Sex Clips”, alias itu bukan situs yang ngasih video soal free sex tapi situs yang ngasih video sex secara gratis, misalnya [$^!@!^*^@!^@!*^@*! – disensor, dilarang ngasih link ke situs porno di blog ini —

Artikel Keagaaman

APAAAA???

Ya nggak kayak situs porno juga kali muatannya -_-

Artikel–artikel keagamaan banyak yang mengandung frase “free sex”. Dan biasanya temanya adalah “free sex itu buruk”, “jauhi free sex” dan lain sebagainya. Eh ya tapi, kan definisi free sex sendiri belum ketemu dari tadi, kok udah dibilang buruk dan disuruh menjauhi aja.
Selidik punya selidik, sebagian besar artikel di internet yang memuat frase free sex justru adalah artikel model begini. Nggak ada definisi sahih soal apa itu free sex dan juga bagaimana praktiknya, tapi larangannya banyak.

Ya mungkin fenomena ini mirip–mirip dengan istilah “komunis” di orde baru kita gitu, pokoknya komunis itu jelek, serem, jangan ditiru, jangan deket–deket, beracun, bau ketek, bleguk meskipun sebetulnya arti sebenarnya apa udah entah ke mana.

Cuma ini lebih parah lagi, artinya nggak ada, pokoknya disuruh ngejauhin aja. Kalo digambarin free sex itu mungkin kayak gini:

“Keadaan bahwa generasi muda dan dewasa bisa [***] seenaknya sama siapa aja, nongkrong di bar tau–tau bisa nge[***]in [***] cewek di meja sebelah sambil diliatin orang–orang yang berpesta pora sambil [***]nya di[***] sama cewek lain, dan si cewek lain itu [***]nya lagi di[***]seru oleh beberapa cowok lain sambil bergiliran.”

Note: penulis tidak bermaksud menuliskan sesuatu yang porno, cuma karena disensor saja jadi kelihatan begitu, sebetulnya bacanya adalah:

Keadaan bahwa generasi muda dan dewasa bisa [bercanda] seenaknya sama siapa aja, nongkrong di bar tau–tau bisa nge[bayar]in [makanan] cewek di meja sebelah sambil diliatin orang–orang yang berpesta pora sambil [angry birds di ip*d]nya di[mainin] sama cewek lain, dan si cewek lain itu [galaxy t*b]nya lagi di[pinjem buat main temple run]seru oleh beberapa cowok lain sambil bergiliran.

Lupakan Dulu Soal Free Sex, Sex Sendiri Itu Kenapa Begitu Menarik Tapi Juga Begitu Dibatasi?

Nah, kalau bahas ini panjang lebar bisa jadi 1 buku sendiri seperti yang pernah ditulis oleh Jared Diamond dalam bukunya “Why Is Sex Fun?”


Singkat cerita begini, seleksi alam di masa lalu berpihak pada individu–individu yang menyukai seks. Kenapa begitu? Karena seks itu sebetulnya mengerikan, kalau orang gak menyukainya gak akan melakukannya, yang gak melakukan seks gak akan punya keturunan, jadi sifat gak suka seks ini gak akan diturunkan ke generasi berikutnya dan akan punah, sehingga sifat yang bertahan dalam generasi penerus adalah sifat menyukai seks.

Semengerikan apa seks itu? Nah, coba cek sebuah kutipan di serial House yang cukup terkenal ini:

“Sex could kill you. Do you know what the human body goes through when you have sex? Pupils dilate, arteries constrict, core temperature rises, heart races, blood pressure skyrockets, respiration becomes rapid and shallow, the brain fires bursts of electrical impulses from nowhere to nowhere and secretions spit out of every gland and the muscles tense and spasm like you’re lifting three times your body weight. It’s violent, it’s ugly, and it’s messy, and if God hadn’t made it unbelievably fun … the human race would have died out eons ago. Men are lucky they can only have one orgasm. You know that women can have an hour-long orgasm?”

Allison Cameron

Dari situ kita bisa melihat bahwa secara alami kita semua menyukai seks, tapi ketika peradaban berkembang, kita juga yang mulai membatasi seks, di mana salah satuya adalah melalui pernikahan.

Kenapa perlu dibatasi?

Lagi–lagi karena seleksi alam. Seleksi alam lebih berpihak kepada pria yang cemburuan dan menjaga pasangannya disetubuhi oleh pria lain.

Kenapa begitu?

Karena pria yang cemburuan dan posesif akan berusaha menjaga pasangannya supaya hanya memiliki keturunan dari dirinya saja dan bisa menurunkan sifat–sifat tersebut, sementara pria yang tidak membatasi pasangannya untuk melakukan seks dengan pria lain peluang memiliki keturunannya lebih kecil. Bayangkan dalam 1 keluarga poliandri dengan 3 pria dan 1 istri, setiap tahun si istri bisa melahirkan 1 anak, dan kemungkinan setiap pria adalah ayah dari anak tersebut hanya 1/3, sedangkan bagi pasangan monogami, si pria sudah pasti adalah ayah dari si anak. Dari situ kita akan melihat bahwa penurunan gen pria cemburuan lebih pesat dibanding pria yang membebaskan istrinya tidur dengan pria lain.

Dan dari gambaran di atas, kita bisa melihat kenapa bentuk pernikahan poligami dan monogami lebih bertahan di masyarakat ketimbang pernikahan poliandri, karena pria yang lebih posesif (apalagi rakus) soal pasangan lebih punya peluang untuk memiliki keturunan dan menurunkan sifatnya tersebut.

Terus hubungannya sama free sex apa?

Hubungannya adalah di pengendalian kelahiran (birth control), mulai dari perhitungan masa subur, kondom, pil kontrasepsi dan lain sebagainya. Sejak manusia mengenal birth control, seks tidak lagi melulu soal keturunan. Sifat seks yang menyenangkan tetap bertahan namun batasan bahwa seks ini akan menjadi keturunan menjadi tidak wajib.

Hal ini jelas mengubah paradigma posisi seks dalam budaya manusia, manusia pun mulai melakukan seks sekedar untuk menikmati kesenangannya saja tanpa harus membatasi dalam kerangka keturunan, dan ini sudah dinikmati manusia sejak jaman dulu kala dalam bentuk masturbasi.

Begitu kita bisa mengendalikan kelahiran, seks adalah hal menyenangkan yang tidak lagi merugikan secara penurunan sifat, dan inilah yang membuat kita semua menginginkan seks lebih dari manusia di jaman purba dulu.

Note: birth control tertua yang didokumentasikan adalah dari sebuah catatan di Mesir lebih 1500 tahun sebelum Masehi, sejak saat itu sampai sekarang manusia telah mengubah paradigma seks.

Lantas, Dengan Adanya Birth Control, Apakah Kita Akan Melakukan Seks Bebas Dengan Siapa Saja?

Nggak juga, coba kamu daftar semua lawan jenis di lingkunganmu sehari–hari, mulai dari yang paling menarik sampai yang tidak. Yakin kamu mau meniduri mereka semua?

Akan selalu ada batasan dalam seks, bedanya tadinya batasan itu adalah:

“Saya hanya akan tidur dengan wanita yang akan mengandung dan merawat anak saya” atau “Saya hanya akan tidur dengan pria yang akan menjaga dan menghidupi saya dan anak saya.”

Menjadi

“Saya hanya akan tidur dengan lawan jenis (atau sesama jenis, in case Anda homoseksual) yang membuat saya bahagia jika tidur dengannya”

Apakah itu bisa diartikan seks bebas? Ya tidak juga. Kita tetap selektif kok (ya kecuali kalau one night stand ketemunya sama–sama lagi mabuk), begitu juga soal bagaimana melakukannya termasuk pada bagaimana mengontrol kelahiran dari seks tersebut. Jadi yaa … di mana bebasnya??

(Lebih) Bebas sih … kalau aturannya sendiri adalah “dilarang melakukan seks selain dengan pasangan yang diikat dalam pernikahan”. Tapi di luar itu pun masih banyak batasan–batasan yang secara personal pun kita terapkan dalam kehidupan seks kita, dan selama itu tidak merugikan orang lain dan kita bersedia bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, ya itu tadi … di mana bebasnya??
Jadi Apakah Dengan Menjadi Ateis Lantas Kita Akan Melakukan Seks di Luar Pernikahan?

Tidak juga.

Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya, perasaan cemburu seorang pria itu demikian besarnya tertanam di dalam gen dan otak kita, tidak semua orang bisa mengatasinya, jadi bagi yang maunya eksklusif ya tetap akan melakukan seks eksklusif dengan pasangannya.
Jadi ya kembali seperti tulisan saya sebelumnya soal tujuan hidup ateis ( http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/05/untuk-apa-kita-hidup-jika-tuhan-tidak-menciptakan-kita/ ), kita sebetulnya dihadapkan pada permasalahan ini secara personal. Jika mereka yang beragama dapat menggunakan aturan agama untuk membatasi hidupnya, ateis bisa lebih fleksibel.

Jika seorang ateis memandang seks selain dengan pasangan baik–baik saja, ya Ia akan melakukannya, jika tidak ya tidak. Kembali ke masalah pertanggungjawaban pribadi atas hidupnya saja sih. ;)

 

Sumber : http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com

Satu komentar di “Pandangan Seorang Ateis Tentang “SEX BEBAS”. Apakah Itu Sex Bebas? Oleh : Rizky Andriawan

  1. Menurut saya pernikahan tidak masuk akal, karena satu-satunya yang didapatkan dari pernikahan adalah jaminan keamanan sosial yang hampir mutlak diperlukan karena ada konvensi kultural oleh pihak-pihak tertentu yang mewajibkan pernikahan tentu saja demi memenuhi tujuan distribusi kekuasaan.
    Kebahagiaan itu sangat sulit didapatkan dari orang lain, ia harus dicari dari dalam diri sendiri, maka sesuatu yang remeh seperti pernikahan tidak akan pernah membawa seseorang kemanapun, selain masalah demografi, ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang lebih pelik karena kuasa imanen kita yang kita perlukan untuk menyelesaikan masalah sebagai strategi mengatasi penderitaan yang kita punya sebagai manusia yang mampu berpikir mandiri telah dibatasi oleh lembaga-lembaga normatif seperti pernikahan yang seringkali menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Tinggalkan komentar